oleh

Ledia Hanifa: Olahraga Disabilitas Bagian dari Pemenuhan Hak Warga Negara

KALBAR.SIBERINDO.CO – Anggota Komisi X DPR RI Ledia Hanifa Amalia menegaskan olahraga disabilitas bukan hanya aktivitas fisik, tetapi bagian dari pemenuhan hak setiap warga negara.

Hal itu disampaikan Ledia saat menghadiri Training of Trainers (ToT) Penggerak Olahraga Disabilitas BERDAYA di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Senin (28/9).

Menurut Ledia, pemahaman mengenai olahraga disabilitas perlu terus diperluas, baik di masyarakat maupun pemerintah pusat dan daerah. Ia menilai perubahan cara pandang dari pendekatan berbasis belas kasihan (charity based) menuju pemenuhan hak (rights based) penting untuk terus diperkuat.

“Kalau orang disabilitas maupun non-disabilitas berolahraga, itu adalah dalam rangka pemenuhan haknya,” ujar Ledia.

Ia mengapresiasi program ToT Kemenpora sebagai salah satu upaya memperkuat kapasitas penggerak olahraga disabilitas di daerah.

Baca Juga  PERINGATI HARI KARTINI, LISMARYANI TEKANKAN SEMANGAT PERJUANGAN DALAM DIRI SEORANG WANITA

“Memang olahraga disabilitas tidak sepopuler olahraga lainnya. Tetapi ini adalah bagian dari proses untuk sama-sama memenuhi hak,” katanya.

Ledia juga mendorong pengembangan sport science untuk mendukung peningkatan prestasi atlet disabilitas. Menurutnya, riset tidak hanya dibutuhkan untuk meningkatkan performa atlet, tetapi juga mengembangkan alat bantu olahraga yang sesuai dengan kebutuhan.

“Kadang-kadang persoalannya bukan pada keterampilan teknis atlet, tetapi justru pada alat bantunya,” ungkapnya.

Ia berharap perguruan tinggi dan lembaga riset ikut mengambil peran dalam pengembangan teknologi olahraga disabilitas. Riset di dalam negeri dinilai dapat menghasilkan alat bantu yang lebih sesuai kebutuhan sekaligus membuka peluang menekan biaya.

Selain itu, Ledia menyoroti pentingnya data penyandang disabilitas yang akurat dan terintegrasi. Menurutnya, perbedaan data antarlembaga dapat menyulitkan pemerintah dalam menyusun program yang tepat sasaran.

Baca Juga  Seba Badui Raih Pariwisata Terfavorit

“Kalau datanya tidak sama, bagaimana kita bisa mendapatkan informasi yang lebih akurat dan valid, siapa yang gemar olahraga dan siapa yang tidak,” katanya.

Ledia juga meminta pemerintah daerah memastikan fasilitas olahraga dapat diakses seluruh masyarakat, termasuk penyandang disabilitas. Aksesibilitas, kata dia, tidak hanya diperuntukkan bagi atlet, tetapi juga penonton dan masyarakat yang menggunakan fasilitas olahraga.

“Kita kadang berpikir lapangannya sudah aksesibel untuk atlet, tetapi lupa penontonnya seperti apa. Karena itu, akses olahraga tanpa hambatan perlu menjadi perhatian,” ujarnya.

Untuk memperkuat pembinaan sejak dini, Ledia mengusulkan agar program penggerak olahraga disabilitas Kemenpora melibatkan guru-guru sekolah luar biasa (SLB), perkumpulan orang tua anak penyandang disabilitas, serta organisasi penyandang disabilitas.

Baca Juga  Sekjen Kemendagri Tekankan Kepemimpinan Adaptif di Tengah Era Disrupsi

Menurutnya, guru dan orang tua memiliki kedekatan dengan anak sehingga dapat membantu menemukan minat serta potensi olahraga sejak dini.

Ledia berharap ToT tidak berhenti sebagai kegiatan selama dua hari. Para peserta diharapkan menerapkan pengetahuan yang diperoleh dan terus berkolaborasi dengan pemerintah daerah, komunitas, organisasi olahraga, serta pihak terkait lainnya.

“Mudah-mudahan bukan berhenti di ToT ini, tetapi setelah ini terus sama-sama bergerak, berkembang, dan berkomunikasi untuk mengembangkan olahraga disabilitas,” katanya.

Ia menegaskan pembangunan ekosistem olahraga disabilitas membutuhkan kolaborasi banyak pihak agar akses dan partisipasi olahraga semakin luas.

“Jadi mari kita sama-sama bergerak bersama untuk membangun ekosistem olahraga disabilitas yang lebih baik,” pungkas Ledia.(***)

News Feed